Sabtu, 19 November 2011

HAKIKAT ANAK DIDIK MENURUT FILSAFAT


HAKIKAT ANAK DIDIK MENURUT FILSAFAT

Salah satu dimensi pokok yang tercakup dalam pondasi pendidikan kejuruan adalah asumsi-asumsi dasar atau konsep tentang hakikat anak didik. Diantara asumsi-asumsi yang cukup terkenal ada suatu pandangan yang menyatakan bahwa manusia atau anak didik, pada dasrnya tidak menyukai kegiatan belajar formal dan sedapat mungkin menghindarinya. Menurut anggapan ini untuk dapat belajar anak didik harus di paksa, diberi motivasi bahkan kalaiu perlu dengan menggunakan ancaman dengan kata lain anak didik merupakan penerima pelajar yang pasif meskipun demikian anak didik masih harus belajar keras. Untuk menguasai yang diajarkan dan ditugaskan oleh guru. Dai inplementasi dari anggapan ini. Tugas guru adalah memperkenalkan anak didik kepada hasanah ilmu pengetahuan yang sudah terkumpul dan struktur agar dengan demikian anak didik dapat berangsur-angsur menyukai kegiatan belajar.
Anggapan ini yang memandang manusia sejak dilahirkan dalam keadaan kepala kosong, jiwanya dalam keadaan bersih bagaikan selembaran kertas putih yang kemudioan sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman sekolah atau pendidikan, diharapkan dapat menulis lembar yang kosong dan bersih itu diisi dengan hal-hal yang diperkirakan akan bermanfaat bagi kehidupan anak didik dalam hala ini jhon lock membedakan dua macam pengalaman.
1.      Pengalaman diperoleh dengan melalui panca indra yang menimbulkan sensations
2.      Pengalaman  dalam yaitu pengalaman mengenai kegiatan dan keadaan batin sendiri yang membukakan reflections..
Anggapan lain tentang anak adalah bahwa anak (manusia), pada dasarnya adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu, dan gemar belajar serta mempunyai keinginan yang besar untuk belajar. Selanjutnya pandangan ini juga mempunyai asumsi, bahwa setiap anak didik mempunyai potensi social, moral, intelektual dan fisik. Potensi-potensi ini dapat berkembang sangat tergantug pada kualitas dan banyaknya pengalaman yang didapat dan dihayati oleh anak. Pengalaman inilah yang harus direncanakan, baik oleh anak didik sendiri maupun oleh sekolah. Sejalan dengan tahapan-tahapan pertumbuhan anak, sekolah dan guru bertugas membimbing anak didik dalam mengembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin, dengan memperhatikan kebutuhan dan minat mereka.
Anak didik dapat memacu dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya, sudah banyak dibuktikan dengan adanya kegiatan belajar yang direncanakan secara bersama oleh guru dan murid, dan juga pengalaman pengalaman penerapan metode pemecahan masalah. Kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah dan mencari alternative pemecahannya, didapat melalui metode pemecahan masalah dalam hal tujuan pembelajaran yang direncanakan anak didik sendiri bukan oleh guru, jauh lebih efektif dibandingkan prilaku yang semata-mata terjadi karena pengaruh dari luar.
Pernyataan diatas menegaskan bahwa pengalaman belajar dan ketuntasan belajar, merupakan kepuasan bagi si anak didik.
Berbagai teori atau asumsi yang berbeda-beda tersbut diatas, untuk didapat suatu kesatuan gambaran yang utuh tentang anak, perlu membuat sinesis dengan menggabungkan komponen-komponen dari teori atau asumsi tersebut. Meskipun tantangan ini sangat kuat, dan tidak mustahil menghasilkan lebih banyak perbedaan daripada kesamaannya, tetapi hal ini penting untuk dilakukan mengingat asumsi dasar tentang anak didik ini sangat diperlukan bagi proses perencanaan implementasi dan pengembangan pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan harus memandang anak didik sebagai seorang yang selalu dalam proses untuk mengembangkan pribadi dan segenap potensi yang dimilikinya. Pengembangan ini menyangkut proses yang terjadi pada diri anak didik, proses menjadi lebih dewasa, yang menyangkut proses perubahan akibat pengaruh eksternal, seperti berubahnya karir akibat perkembangan social ekonomi masyarakat.
Pendidikan kejuruan merupakan upaya stimulasi berupa pengalaman belajar, dan interaksi dengan dunia diluar dari anak didik, untuk membantu mereka dalam mengembangkan diri dan potensinya. Dengan demikian, perhatian terhadap keunikan tiap individu dalam berinteraksi dengan dunia luar melalui pengalaman belajar, namun tidak trelepas dari konteks social masyarakat ini semua tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikan. Dengan kurikulum yang berorientasi ke duni akerja, dan pendidikan seumur hidup yang secara ril diwujudkan dalam kombinasi pendidikan sekolah dan pendidikan diluar sekolah dan dalam meniti karir seseorang.

Jadi simpulannya: Hakekat anak didik merupakan suatu yang harus diketahui oleh para pendidik sebagai pijakan dalam mengambil kebijakan khususnya yang berkaitan dengan perkembangan anak didik. Oleh karena itukah didalam kajian filsafat pendidikan pengkajian terhadap hakekat anak didik menepati posisi yang sangat penting.
Salah satu hakekat anak didik itu adalah anak didik mempunyai dunia mereka sendiri sehingga anak bukanlah miniatur dari anak dewasa. Anak mempunyai dunia sendiri yaitu dunia bermain, maka dari itu semestinya walaupun anak mempunyai tugas belajar, akan tetapi kebutuhan bermain haruslah dipenuhinya. Akan tetapi sangat disayangkan, sistim pendidikan kita saat ini telah merampas dunia anak. Misalnya. Dimana-mana anak dipacu agar terus belajar, dan belajar, contonya seperti: kegiatan pulang sekolah, mengikuti les, mengundang guru pripat, dan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru di sekolah. Maka tidak heran ketika anak didik sudah meranjak dewasa seakan malas malas belajar, karena mengalami kejenuhan belajar atau sekolah bukan lagi sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan, melainkan sekolah merupakan suatu tempat yang menyeramkan tentu situasi ini tidak kita harapkan dan tidak mau kita biarkan, maka oleh karena itu pemahaman terhadap hakekat anak didik sangatlah penting khususnya bagi pendidik baik orang tua maupun para guru.

Daftar Pustaka
-          Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 4 Lintas Bidang. PT. Imperial Bhakti Utama. Bandung.2007
-